Postingan

Menampilkan postingan dengan label Short Stories

Cerpen yang pernah diikutsertakan di Lomba Perhutani Green Pen Award 3, tapi lagi-lagi gagal :(

Tuah si Pohon Penjaga Matahari masih di atas kepala ketika Sang Pohon Bertuah tiba-tiba menyentakkan ujung rantingnya. Batangnya yang besar seolah raja berpadu dengan akarnya yang meghujam kuat ke tanah bak singgasana. Keras terguncang, lempengan bundar yang menggantung itu lepas jua, terpisahkan dari induknya, terpisahkan dari dunia kecil yang selama ini melindunginya. Biji itu jatuh pada pucuk anakan dara-dara. Lalu terhempas pelan menyibak alang-alang yang menguning, terjungkal, terjerembab lagi hingga tiba diatas tanah kerontang. Sayup-sayup terdengar kepakan enggang, dua ekor hinggap di balau, berkoar-koar sahut menyahut menyambut peristiwa di depan matanya, menatap lekat sembari menggoyangkan mahkotanya, bagian yang paling sering diburu, keindahan yang mengancam mereka pada kepunahan. Sang Pohon Bertuah berguncang lagi. Dilihatnya bagian tubuhnya yang terluka. Bekas-bekas akibat sayatan di kulitnya mulai memudar. Para pencari gaharu, atau para pemburu babi sering bersan...

CERPEN-JEJAK MACARANGA

Jejak Macaranga Disitulah kita kerja di sinar matahari Gunung lembah berduri haruslah kita arungi dengan hati yang murni Rimba raya.. Rimba raya.. indah permai dan mulia Mahataman tempat kita bekerja Rimba raya.. Rimba raya.. indah permai dan mulia Mahataman tempat kita bekerja Pagi petang siang malam rimba kita berseru Bersatulah bersatu tinggi rendah jadi satu Bertolongan selalu (1) Nada-nada tak beraturan merayap memenuhi aula. Desing suara sembarang berpadu dengan gema yang samar. Meski bibir tak berhenti berucap, meski lidah dan berhenti beradu, pikiran ini nyatanya tak disana. Siapa yang peduli dengan nyanyian ini, siapa yang peduli dengan kebisingan yang hampir menyerupai pasar. Tangan-tangan itu saling melekatkan, meraih bahu kawan disampingnya, merangkul penuh keharuan sembari menyanyikan apa yang mereka sebut “Mars Rimbawan”. Aku hafal lagu ini, teramat hafal. Bagaimana tidak, selama pendidikan sepanjang tiga hari ini, senior kami selalu memaksa, men...

cerpen ini kemarin diikutkan di lomba Hutanta dengan tema Saat Hati Berbicara, cuman karena kurang jumlah likersnya yaaah gak masuk nominasi daah..hahaha

PULANG Another summer day has come and gone away in Paris and Rome I want to  go home..hmm.... Maybe surrounded by a million people I still feel all alone I just want to go home, I miss you, you know             Suara Shane dan Mark berganti-gantian mengisi gendang telingaku selama perjalanan. Lagu Home yang dinyanyikan oleh boyband favoritku itu sudah berulang kali terputar dalam playlist bersama lagu Westlife lainnya. Jika headset- ku itu laki-laki-dan bisa berbicara tentu ia akan menggerutu dan menyuruhku mengganti lagu dengan penyanyi wanita. Sayang, headset hanyalah benda mati yang diciptakan oleh pembuatnya untuk membantu sang pemakai dalam aksi tidur bohong-bohongannya dalam kereta agar tempat duduknya tidak diminta oleh ibu-ibu hamil dan orang tua dengan wajah memelas mereka, atau mungkin dulunya si pembuat headset ini adalah mahasiswa pemalas yang hanya sekedar titip absen atau datang di kelas lalu duduk...

Cerpen " Balonku "

Gambar
BALONKU                              source : www.tamanbalon.com                  Balon selalu menjadi benda yang disukai anak-anak. Dengan warna-warni yang memikat, benda bulat-oval yang hanya beberapa gram saja beratnya itu bahkan mampu menyihir anak kecil yang menangis karena mamanya tak membelikannya mainan baru, menjadi riang kembali. Seperti halnya kau, balonku. Kau selalu bisa menghiburku disaat semua canda bahkan tak mampu menghadirkan kembali senyumku. Kau yang mampu menyihirku dari gadis manja, cengeng dan menyebalkan ini menjadi sosok yang lebih dewasa dan kuat. Kau begitu gembul, suka sekali aku mencubitmu jika kita sedang jalan berdua. Terserahlah apa kata orang, mereka boleh bilang ada angka sepuluh lewat jika kita melintasi mereka, atau ada gajah yang tengah bersandar pada tiang listrik ! Kejam memang. Tapi cinta tak mengenal bentuk tu...

Senja di Penghujung September

Gambar
Sebuah cerpen yang pernah diikutsertakan lomba cerpen diva April 2012, salah satu cerpen yang terselamatkan atas musibah rusaknya harddisk laptop T.T Inspirasi bikin cerpen ini dari seseorang, seseorang yang pernah singgah di hati :D cukup panjang, sekitar 11 halaman. Jangan baca saat dosen lagi jelasin materi kuliah ya :p Thanks for reading ! Senja di Penghujung September Pagi menyeruak dari keheningan. Bayang-bayang kegelapan kian memudar. Gurat sinar sang surya terbesit di cakrawala. Pendar bintang dan bulan tenggelam dalam angkasa. Katamu, ini adalah saat terbaik untuk menikmati keindahan simfoni Sang Pencipta. Saat dimana kau bisa merasakan udara segar yang dapat kau hirup secara cuma-cuma. Mendengarkan alunan melodi yang memberimu nuansa penyejuk jiwa. Jua, melihat gradasi warna yang terbentang di sela-sela mega. Setidaknya, itu yang kau katakan padaku saat kita untuk yang kedua kalinya bertatap muka. Kau adalah seniorku, dan aku adalah juniormu. Aku mengenalmu ka...

Di bawah Tegakan Casuarina

Cerpen IAC ku yang gagal ditahun 2013, tema : Kisah kasihku dengan institusiku Di bawah Tegakan Casuarina Menjadi anak seorang pencari ikan bukanlah halangan untuk terus menimba ilmu. Berasal dari keluarga yang sederhana juga bukan alasan untuk tidak mengejar mimpi. Aku mengenalmu sedari kecil, sedari kita masih belajar mengaji bersama di surau ustadz Halim ba’da magrib, sedari kita mengeja huruf-huruf hijaiyah di juz amma, semenjak kita selalu pulang sekolah, lalu kita berburu undur-undur di tepi pantai dan menggorengnya menjadi rempeyek di rumahmu, kawan. Aku mengenalmu

Sepotong Pelangi di dalam Toples Kaca

Gambar
Ini cerpen yang bertema-kan bulan ramadhan, pernah diikutsertakan dalam lomba poster&cerpen amatir untuk pemula, Agustus 2012 Sepotong Pelangi di dalam Toples Kaca Meski aku hanya duduk dan menunggu saja di dalam kereta, pegal juga badanku ini. Kereta api Senja Utama yang kunaiki dari Pasar Senen akhirnya tiba juga di kota kelahiranku, Jogjakarta sekitar pukul lima pagi. Dengan membawa satu koper berukuran kecil dan sebuah daypack yang melekat erat di punggung, kuayunkan kaki untuk melangkah keluar stasiun. Sampai juga aku di kampung halaman tercinta. Masih kuingat kemarin siang saat aku dan seorang kawanku berjejal-jejal bersama penumpang lainnya di dalam sebuah komuterline jurusan Bogor-Jakara untuk sampai di

Kembang Ilalang di Padang Gersang

Gambar
waah..ternyata saya masih gagal "lagi"..hahaha cerpen ini baru kemarin saya ikutsertakan lomba menulis cerpen dilomba cerpen nasional yang diadakan   Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang. .tapi ternyata saya belum beruntung =D Kembang Ilalang di Padang Gersang Suara perdu yang terusik bergantian mengayunkan daun-daunnya. Seorang bocah laki-laki berlari tanpa mempedulikan kerumunan kerikil yang tersebar di hadapannya. Kakinya yang tergopoh-gopoh terluka oleh dedurian putri malu yang tergores di punggung kakinya

DIARY BIRU, UNTUK AKHIR KELABU

Gambar
waah..tiba2 aja nemu file cerpen ini di laptop kesayangan.. udah lama bt dibikinnya.. baca yaa =D Diary Biru, untuk Akhir Kelabu Udara panas menyengat. Terik mentari yang memanggang kulit itu terabaikan. Kami, murid – murid kelas XI lagi pada asyik ngobrolin rapor kenaikan kelas. Suasana riuh dan tentunya gokil bener- bener terasa di kelasku, XI IPA 4. “ Na, lo dapet rank berapa ? Jumlah lo ? kalo punya gue seribu lima ratus tujuh puluh empat…..Gue dapet peringkat  empat nih…” cerocos Eva,

ketika komisi kedisiplinan tak lagi menyeramkan

Gambar
Cerpen ini pernah dimuat di majalah FORMAGZ Fakultas Kehutanan IPB edisi II tahun 2012 ringan kok ceritanya.. tentang komisi kedisiplinan masa perkenalan fakultas yang identik dengan kata seram, galak, muka datar, de el el itu deh.. tapi gimana ya kalo komdisnya kaya yang satu ini ?? Ketika Komisi Kedisiplinan Tak Lagi Menyeramkan S inar mentari belum terlihat menerobos jendela kamar kost-ku. C ahayanya yang hangat pun belum terasa menyentuh pori-pori kulitku. Weker pemberian mama di meja belajar masih menunjukkan pukul empat pagi. Tak biasanya aku bangun sepagi ini. Kuregangkan badanku , lalu bangkit, dan duduk sejenak di tepi tempat tidur . Sambil duduk, otakku sudah dipaksa bekerja untuk memikirkan barang-barang apa yang harus kubawa nanti. Oh iya, dilarang mema kai aksesoris. ‘ Huh, payah ’ , pikirku. Kulepaskan dua cincin emas putih yang selalu melekat di jariku, beserta se pasang giwang yang juga pemberian mama. Tiba-tiba smartphone -ku bergetar....